Friday, March 9, 2012

Dear Mars

Ternyata perasaan tak selamanya benar, rasa empati yang kurasa, kucoba tuk ingkari
aku mengerti aku tak mampu pahamimu
aku tak dapat masuki dimensi kehidupanmu

aku sadar diri ini tak bisa mengurai setiap gerak langkahmu
tak bisa mengikuti setiap inginmu

tapi tak bisakah sejenak kau melambatkan langkahmu
aku ingin mngejarmu, berada lagi disampingmu
tapi kau tak pernah bisa berhenti dan menungguku
bahkan kini kaupun berjalan dijalan yang berbeda denganku

sebegitu tak pantaskah aku untukmu
pengorbananku selama ini, hanya kau anggap angin lalu
tanpa dusta kuteteskan air mata
hanya untuk menangisi seseorang yang tak pernah bisa
melambatkan langkahnya walau sebentar

aku marah, aku cemburu, aku terluka
ingin ku ulang waktu
dimana aku tak ingin lagi mengenalmu
rasa ini sangat menyiksaku
hingga tak mampu lagi aku mengerti tempatku berada
kau sungguh memporak porandakan kehidupanku

janji yang kuucap untuk tak lagi mau mencinta
dengan mudahnya kuingkari
tembok kokoh yang ku bangun untuk membentengi hatiku
dengan mudahnya kuhancurkan
semua karena apa?
karena kau yang memasuki dimensi kehidupanku
meresap melalui pori-pori hati yang terbuka
merasuk jauh ke dalam sistem indraku
sehingga membuatnya selalu ingin mendengar, melihat, menyentuh
semua tentangmu.....

namun secepat kau masuk kedalamnya
secepat pula kau pergi tinggalkannya
iya benar.... kau pergi tinggalkan bekas luka yang menganga
yang selamanya akan terendap di dalam hati
yang tak akan pernah ku lupa

vo my mars
from your venus

No comments:

Post a Comment